Nasional

Kampus Pesantren dan Tantangan Generasi BANI: Mengubah Mahasiswa dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Solusi

Kampus Pesantren dan Tantangan Generasi BANI: Mengubah Mahasiswa dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta SolusiGratis

BOJONEGORO — Perguruan tinggi menghadapi tantangan baru yang tidak cukup dijawab dengan mencetak lulusan berijazah. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perubahan dunia yang semakin sulit diprediksi, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir, ketahanan mental, sekaligus orientasi kebermanfaatan. Perspektif tersebut disampaikan Abdur Rahim, S.S., M.Pd., dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKBM) STIT Al Hadi Padangan Bojonegoro, Ahad (13/9/2026).

Pegiat literasi media, aktivis NU, sekaligus kurator buku kepesantrenan itu melihat persoalan pendidikan tinggi bukan semata tentang bagaimana mahasiswa memperoleh pekerjaan setelah lulus. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana perguruan tinggi membentuk manusia yang mampu membaca perubahan, menyelesaikan persoalan nyata, dan tetap memiliki pijakan nilai.

Menurut Abdur Rahim, era BANI—Brittle, Anxious, Nonlinear, dan Incomprehensible—membuat pola kehidupan tidak lagi mudah diprediksi. Karena itu, mahasiswa perlu meninggalkan orientasi belajar yang hanya mengejar gelar. Ijazah merupakan bukti seseorang pernah menempuh pendidikan, tetapi tidak otomatis menunjukkan kemampuan menghadapi persoalan dunia nyata.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi berbasis pesantren dinilai memiliki modal penting. Pendidikan pesantren dapat menjadi ruang perjumpaan antara kedalaman spiritual, ketajaman intelektual, dan tindakan nyata melalui integrasi dzikir, fikir, dan amal sholeh.

“Dzikir memberi ketahanan spiritual, fikir melatih ketajaman nalar, sedangkan amal sholeh memastikan ilmu berujung pada kebermanfaatan,” demikian gagasan yang ditekankan Abdur Rahim.

Ia menilai integrasi tersebut semakin penting ketika AI berkembang pesat. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan daya pikir dan tanggung jawabnya.

Karena itu, mahasiswa pesantren perlu dibentuk bukan sekadar sebagai pencari kerja, melainkan sebagai pencipta solusi. Kompetensi akademik, kemampuan teknologi, karakter, dan pengabdian harus berjalan beriringan agar pendidikan tinggi benar-benar melahirkan generasi yang mampu menghadapi ketidakpastian sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *